Responsive Banner design
Home » » Kritik Atas Sistem Kapitalis Dan Sosialis

Kritik Atas Sistem Kapitalis Dan Sosialis

PENGANTAR SISTEM EKONOMI ISLAMKritik Atas Sistem Kapitalis Dan Sosialis

      Pemikiran, bagi bangsa manapun, adalah sebuah kekayaan yang tak ternilai harganya yang mereka miliki dalam kehidupan mereka, apabila mereka adalah sebuah bangsa yang baru lahir. Bahkan, ia merupakan peninggalan yang sedemikian berharga yang akan diwarisi oleh generasi penerusnya, apabila bangsa itu telah menjadi sebuah bangsa yang maju dalam bidang pemikirannya.
    Sedangkan kekayaan yang bersifat materi, penemuan-penemuan ilmiah, industrialisasi serta hal-hal yang lainnya, masih jauh kedudukannya dibanding dengan pemikiran tersebut. Bahkan, semuanya bisa diraih melalui pemikiran, dan semata-mata bisa dilestarikan hanya oleh pemikiran.
    Oleh karena itu, apabila kekayaan sebuah bangsa yang bersifat materi hancur, maka dengan segera akan bisa dipulihkan kembali, selama bangsa itu melestarikan kekayaan berfikir mereka. Namun apabila kekayaan berfikir mereka telah terabaikan, dan sebaliknya, mereka malah melestarikan kekayaan materi mereka, maka kekayaan itu pun akan segera sirna dan mereka akan kembali menjadi miskin. Seperti halnya kebanyakan penemuan-penemuan ilmiah yang telah ditemukan oleh bangsa tersebut, mungkin saja akan terulang kembali, apabila bangsa tersebut telah meninggalkan penemuan-penemuan itu, dengan tidak meninggalkan metode berfikirnya. Bahkan, sebaliknya, apabila mereka telah meninggalkan metode berfikir mereka yang inovatif tersebut, maka pasti mereka akan segera terbelakang lagi. Sehingga penemuan-penemuan yang mereka miliki itu akan musnah. Karena itulah, maka yang harus dijaga pertama kalinya adalah pemikiran. Sehingga dengan dasar pemikiran ini, beserta metode berfikirnya yang inovatif itu, mereka akan bisa meraih sukses materi serta berhasil menemukan penemuan-penemuan ilmiah dan industrialisasi (yang sedemikian maju) maupun hal-hal yang serupa lainnya.
    Sedangkan yang dimaksud dengan pemikiran di sini adalah adanya aktivitas berfikir pada diri umat atau bangsa tentang realitas kehidupan yang mereka hadapi. Dimana mereka masing-masing secara keseluruhan senantiasa mempergunakan informasi-informasi yang mereka miliki, ketika mengindera berbagai fakta ataupun fenomena untuk memutuskan fakta atau fenomena tersebut. Dengan kata lain, mereka senantiasa harus memiliki pemikiran yang bisa mereka pergunakan dalam menatap hidup mereka. Sehingga karena sedemikian seringnya mereka mempergunakannya, maka akan muncul kegemilangan metode berfikir mereka yang inovatif itu pada diri mereka.
    Umat Islam saat ini bisa dianggap sebagai umat yang telah kehilangan pemikirannya, sehingga pasti mereka telah kehilangan metode berfikirnya yang inovatif. Oleh karena itu, generasi yang akan datang tidak akan mewarisi pemikiran Islam, maupun pemikiran-pemikiran non Islam apapun dari pendahulu mereka. Sehingga dengan begitu mereka juga tidak akan mewarisi satu metode berfikir yang inovatif pun. Bahkan, mereka juga tidak akan memiliki pemikiran dan metode berfikir yang inovatif sama sekali. Karena itu, secara pasti umat ini nampak telah menderita kemiskinan, sekalipun kekayaan materi di negara mereka sangat berlimpah. Mereka juga nampak telah kehilangan kreativitasnya, sehingga tidak bisa menemukan penemuan-penemuan ilmiah, maupun melakukan industrialisasi, meskipun secara teoritis mereka mepelajari, mendengarkan dan menyaksikan penemuan-penemuan tersebut. Mengapa, karena mereka tidak akan terdorong untuk melakukannya, kecuali apabila mereka memiliki metode berikir yang inovatif tersebut. Yaitu, apabila mereka memiliki pemikiran yang produktif yang mereka pergunakan dalam kehidupan.
    Oleh karena itu, kaum muslimin harus membangun pemikiran dan metode berfikir yang inovatif itu dalam diri mereka. Kemudian dengan landasan pemikiran itu, mereka bisa meraih kekayaan yang besifat materi. Mereka juga akan bisa menemukan realitas-realitas ilmiah. Setelah itu baru kemudian mereka bisa melakukan industrialisasi. Selama mereka tidak melakukannya, niscaya mereka tetap tidak akan mungkin melangkah maju setapak saja. Bahkan, mereka tetap akan berkutat dalam kubang pengangguran. Dimana peran mereka tetap tidak ada, malah kapasitas berfikir dan tenaga mereka tetap tersimpan dan baru akan berakhir kalau mereka mau memulainya.

    Generasi kaum muslimin itu tidak lagi memiliki pemikiran-pemikiran yang bisa dipergunakan untuk melakukan counter pemikiran yang ingin dijejalkan pada dirinya, sehingga generasi itu mampu menyadari (kekeliruan) pemikiran yang akan dijejalkan kepadanya. Karena dengan begitu, akan terjadi pertarungan antara dua pemikiran, dimana setelah terjadinya pertarungan itu, dia mampu menemukan pemikiran yang benar. Kenyataannya tidaklah demikian, justru generasi ini telah kehilangan semua pemikiran beserta seluruh metode berfikirnya yang inovatif itu. Dimana generasi ini telah mewarisi pemikiran-pemikiran Islam sebagai sebuah falsafah (pandangan) yang bersifat utopis secara total, sebagaimana bangsa Yunani yang --pada saat ini-- telah mewarisi filsafat Aristoteles dan Plato. Generasi ini juga telah mewarisi Islam sebagai sebuah upacara dan simbol-simbol keagamaan, seperti halnya orang-orang Nasrani yang telah mewarisi agama Nasraninya. Sementara pada saat yang sama, generasi ini telah terpesona dengan pemikiran Kapitalis, karena melihat keberhasilannya, bukan karena memahami betul realitas pemikirannya. Juga karena generasi ini telah tunduk pada penerapan hukum-hukumnya pada diri mereka, bukan karena sadar bahwa pemecahan-pemecahan itu sebenarnya muncul dari pandangan hidup Kapitalis. 

0 komentar:

Posting Komentar